Benarkah Susu Sapi Berbahaya & Tidak Pantas Di Konsumsi?

By Green World Jakarta Timur - 00.51.00

MITOS SUSU SAPI BERBAHAYA & TIDAK PANTAS DI MAKAN
susu sapi tidak bagus dikonsumsi


  1. Tidak ada Makanan lain yang lebih susah di cerna daripada susu sapi. Padahal, sama seperti makanan lain, dalam kondisi individu sehat susu sapi enteng di cerna. Terhadap penderita alergi atau hipersensitif saluran cerna, kandungan gluten, kasein, whey, atau 40 protein yang lain yang ada di dalam susu sapi murni atau susu formula yang benar-benar dapat mengganggu dan berdampak ke fungsi saluran pencernaan. Kalau fungsi saluran cerna terganggu, sehingga penyerapan terganggu.
  2. Kasein yang terkandung dalam susu sapi kira-kira 80% dari protein, langsung menggumpal menjadi satu saat memasuki lambung dan susah untuk di cerna. Protein susu sapi terbagi menajdi Kasein dan Whey. Kasein yang berupa bagian susu berbentuk kental biasanya didapatkan pada terdiri dari 76-86% dari protein susu sapi. Kasein dapat presipitasi dengan zat azam pada pH 4,6. Kasein memang bagian paling kental dari susu sapi, tetapi bukan berarti tidak dapat atau sulit untuk di cerna. Sekali lagi penyerapannya terganggu pada penderita hipersensitif dan alergi saluran cerna.
  3. Komponen susu yang di jual di toko telah di homogenisasi dan menghasilkan radikal bebas. Sampai saat ini, tidak ada penelitian yang menunjukan hal seperti itu. Tetapi memang benar pada penderita alergi susu sapi dapat terjadi pengeluaran berbagai zat mediator di dalam tubuh manuasi yang dapat mengganggu tubuh, salah satunya yang berdampak menghasilkan radikal bebas. Tepati pada orang sehat hal itu tidak akan terjadi.
  4. Susu yang di pasteurisasi tidak mengandung enzim-enzim bermanfaat, lemaknya teroksidasi dan kualitas proteinnya berubah akibat suhu yang tinggi. Pasteurisasi adalah sebuah proses pemanasan makanan dengan tujuan membunuh osganisme merugikan seperti bakteri, virus, protozoa, kapang dan khamir. Tak seperti sterilisasi, pasteurisasi tidak dimaksudkan untuk membunuh seluruh mikroorganisme dimakanan. pasteurisasi bertujuan mencapai "pengurangan log" dalam jumlah organisme, mengurangi jumlah mereka sehingga tidak lagi bisa menyebabkan penyakit dengan syarat produk yang telah di pasteurisasi didinginkan dan digunakan sebelum tanggal kadaluwarsa. Pada proses pengolahan susu, penambahan zat gizi tertentu memiliki banyak tujuan, misalnya mengantikan zat gizi yang hilang selama proses pengolahan.
  5. Susu yang mengandung banyak zat lemak teroksidasi mengacaukan lingkungan dalam usus, meningkatkan jumlah bakteri jahat, dan meghancurkan keseimbangan flora bakteri dalam usus. Gangguan pada lingkungan dalam usus, meningkatkan jumlah bakteri jahat, dan menghancurkan keseimbangan flora bakteri dalam usus bisa saja terjadi pada orang yang tidak sehat khusus individu yang mengalami daya tahan tubuh menurun seperti penderita AIDS, Malnutrisi (kurang gizi) penderita Tuberkulosis, gangguan metabolisme dan gangguan kronis lainnya. Ini ini juga bisa terjadi pada pendertia autisme, alergi makanan atau penderita intoleransi makanan lainnya. Pada penderita seperti itu memang pemberian susu sapi harus dibawah rekomendasi dokter ahli, karena akan memperberat gangguan pada saluran cerna.
  6. Jika wanita hamil minum susu sapi, anak-anak mereka cenderung lebih mudah terjangkit dermatitis atopik (penyakit radang kulit yang parah). Sampai saat ini belum ada cukup bukti ilimah bahwa dengan pembatasan diet ibu selama kehamilan memainkan peran penting dalam mencegah penyakit atopik pada bayi seperti asma, rinitis alergi (hay fever), alergi makanan atau dermatitis (eksim). Namun Epsghan dan Committes on Nutrition AAP tetap menganjurkan hanyak eliminasi diet jenis kacang-kacangan untuk pencegahan alergi sejak dalam kehamilan bukan menghindari susu sapi.

  • Share:

0 komentar