Alergi Terhadap Susu Sapi

By Green World Jakarta Timur - 07.12.00

Green World - Jadi, secara perlahan-lahan diperkenalkan ke susu alternatif 'segar', yakni susu pengganti untuk anak yang alergi susu sapi, bisa saja diganti dengan susu alternatif seperti susu kedelai.

Apakah susu kedelai bisa sebagai pengganti? Kandungan protein di susu sapi tentu saja berbeda dari susu kedelai. Bahkan, beberapa protein esensial di susu kedelai, tidak ada di susu sapi. Jadi ganti saja susunya dengan susu alternatif seperti susu kedelai. Biasanya anak tidak suka karena selama ini sudah terbiasa dengan susu yang manis. Terus coba perlahan-lahan. Campur dulu dengan susunya yang sekarang, dan semakin lama porsi susu yang lamanya dikurangi dan diganti dengan susu kedelainya.

Karena sebagian besar anak sangat membutuhkan susu kedelai untuk perkembangan pankreas untuk memproduksi enzim laktase. Enzim ini berfungsi mengolah laktosa. Nah, laktosa adalah gula susu dan kadarnya sangat tinggi dalam ASI.

Sering kali, orang tua tidak tahu jika anaknya mengalami alergi susu sapi. Hal ini bisa jadi karena kurangnya pengetahuan dan kurangnya pengenalan terhadap penyebab, gejala, dan cara penanganan alergi yang tepat. Padalah, penanganan yang tidak tepat akan berdampak buruk pada kerkembangan tumbuh anak secara keseluruhan.

Dr. Zakiudin Munasir, Sp.A(K), konsultan ahli alergi imunologi dari RSCM, Jakarta, mengatakan, "Mengenali alergi menjadi langkah pertama yang paling penting dalam manajemen alergi susu sapi. Setelah itu, tangani dengan tepat, sehingga anak bisa tumbuh dan berkembang dengan optimal." Alergi susu sapi umumnya dialami anak yang mempunyai bakat alergi yang disebut atopik. Bakat tersebut diturunkan secara genetik, oleh salah satu atau kedua orang tuanya.

Selain faktor genetik, faktor resiko lain yang bisa menimbulkan alergi adalah faktor lingkungan, seperti alergen (zat asing), polusi dan infeksi. Dan, gejala yang paling sering muncul adalah masalah disaluran cerna, mulai dari muntah, muntah, kolik, diare, darah dalam feses, serta masalah dalam kulit (berupa bentol merah, gatal, bentol merah berisi cairan, keropeng, dan kulit kering). gejala klinis lain yang mungkin muncul adalah bengkak dan gatal di bibir sampai lidah, nyeri dan kejang perut, muntah sampai diare berat yang disertai berdarah.

Alergi ini bisa juga berdampak pada gangguan saluran pernafasan, seperti bersin-bersin disertai gatal dihidung, hidung tersumbat, batuk pilek berulang, sesak nafas dan asma. Di Indonesia, adalah gejala paling umum adalah pada pernafasan (51,5 persen) dan kulit (48,7 persen), selanjutnya pada pencernaan (39,3 persen), dan gejala lain seperti pada mata dan susunan saraf pusat seperti sakit kepala. "Setelah mengenali satu atau lebih gejala pada anak, segeralah konsultasikan pada medis untuk mendapat penanganan dan nutrisi yang tepat,"kata Dr. Zaki.

Penanganan alergi melalui pemberian nutrisi yang tepat sangat penting. Sering ditemukan kasus anak penderita alergi protein susu sapi terkena gangguan disaluran cerna, sulit makan sehingga, mengalami komplikasi berupa kurang gizi atau malnutrisi, yang terlihat dari berat dan tinggi badan yang sulit bertambah. Hal ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena bisa berdampak pada pertumbuhan perkembangan fisik dan kecerdasan anak. Begitu terdeteksi adanya alergi susu sapi pada anak, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah menghentikan pemberian susu sapi. Lalu, konsultasikan kedokter apakah anak perlu mendapat asupan protein pengganti yang lain atau tidak.

Jika anak masih menolak susu kedelai, Anda masih bisa memberikan anak penggantinya, "seperti keju, telur, ikan, yogurt,dan es krim."

  • Share:

0 komentar